TUGAS 2 BIROKRASI B, Sarah Jesica 180903101
TUGAS 2
Nama : Sarah Jesica Silalahi
NIM : 180903101
Mata Kuliah : Birokrasi Publik
Dosen Pengampu : Dr. Sally Sihombing, S.I.P., M.Si
Jurusan : Ilmu Administrasi Publik
Tugas 2: Karakteristik Birokrasi Rosenbloom
Rosenbloom menjelaskan dalam bukunya pada tahun 1983 yang berjudul "Public Administration Theory and the Separation of Powers" bahwa tiga metode khusus telah ditemukan dalam Ilmu Administrasi Publik, yaitu Pendekatan Manajerial, Pendekatan Politikal, Pendekatan Legal. Dalam hal ini akan membahas secara khusus Pendekatan Manajerial pada tahun 1870-1890 yang memperkuat prosedur administratif untuk merencanakan prosedur politik dan korupsi. Dalam hal ini, Rosenbloom menjelaskan bahwa pendekatan ini menekankan pada nilai keahlian, netralitas, efektifitas dan efisiensi. Kemudian ia menggambarkan struktur organisasi yang mengarah pada hierarki birokrasi, seperti birokrasi rasional Weber. (Rosenbloom, 1983)
Max Weber memandang birokrasi dari perspektif klasik, menggambarkan citra organisasi yang ideal dan kuat. Weber juga memaparkan beberapa karakteristik birokrasi yang mendefinisikan birokrasi sebagai tipe ideal. Karakteristiknya adalah:
a) Pembagian kerja, dibagi menjadi tugas-tugas yang ditentukan dengan jelas untuk setiap orang.
b) Hirarki kewenangan yang jelas, yang menunjukkan struktur keberadaan suatu jabatan tertentu dalam organisasi. Ada posisi mulai dari yang tertinggi hingga terendah. c) Sangat formal, mengandalkan aturan formal untuk menyatukan perilaku setiap anggota organisasi.
d) Impersonal, tidak ada preferensi pribadi di antara anggota. Dengan kata lain, sanksi dilakukan tanpa perasaan pribadi, dan setiap orang sederajat.
e) Keputusan penempatan karyawan didasarkan pada kemampuan, sedangkan keputusan karyawan tentang seleksi dan promosi didasarkan pada kemampuan masing-masing. f) Lintasan pengembangan karir karyawan, karyawan memiliki masa jabatan sendiri sendiri. Ini memicu anggota untuk terlibat dalam pekerjaan di organisasi. g) Kehidupan organisasi dipisahkan dari kehidupan pribadi untuk mendukung kerja organisasi yang wajar, kebutuhan individu dipisahkan dari organisasi.
Rosenblom setuju dengan struktur organisasi Weber karena itu mengurangi partisipasi politik, yang berujung pada penyalahgunaan kekuasaan. Weber mungkin menggambarkan birokrasi sebagai organisasi yang sangat kaku, tegas, disiplin, dan hierarkis. Namun, ini sangat perlu. Oleh karena itu, Rosenblom mengemukakan bahwa menurut birokrasi Weber, birokrasi memiliki empat karakteristik, yaitu:
a) Impersonal
Weber menjelaskan bahwa tidak ada "preferensi" bagi anggota organisasi. Semuanya sama dan tidak memiliki prioritas, sehingga setiap orang memiliki aturan dan sanksi yang sama untuk mengurangi terjadinya campur tangan politik dan penipuan. b) Formalistik
Formalistik, masih ada aturan formal. Organisasi akan secara ketat mematuhi aturan dan prosedur yang berlaku.
c) Rule Boundary
Batasan aturan yang ada di dalam organisasi. Semua anggota organisasi memiliki kewenangan atau batasan kekuasaan masing-masing dalam birokrasi.
d) Highly Discipline
Birokrasi adalah organisasi yang kaku dan identik dengan disiplin. Mengenai regulasi, perilaku, dan cara kerja di birokrasi.Keputusan penempatan karyawan didasarkan pada kemampuan, sedangkan keputusan karyawan tentang seleksi dan promosi didasarkan pada kemampuan masing-masing.
Birokrasi Weber tentunya memiliki kelebihan, yang membuatnya beradaptasi dengan saat ini. Salah satunya adalah minimnya campur tangan politik. Kecurangan seperti korupsi memiliki peluang kecil terjadi dalam birokrasi semacam ini. Aturan ketat, struktur jelas, terutama disiplin. Kemudian ada sistem kontrak yang mengubah kontrak menjadi kesepakatan sehingga karyawan harus bekerja sesuai dengan kontrak. Pengaturan yang tidak manusiawi juga dapat mencegah karyawan melakukan apa pun yang mereka inginkan saat menggunakan fasilitas atau untuk keuntungan pribadi.
Struktur organisasi ini juga memungkinkan karyawan untuk fokus pada posisinya. Pegawai dituntut hanya bekerja di birokrasi, karena tidak paruh waktu, guna memperoleh produktivitas yang maksimal di birokrasi. Biarkan karyawan fokus pada pekerjaan mereka tanpa terganggu oleh pikiran dan energi mereka. Ini menguntungkan, karena faktor ini juga membuat hasil pekerjaan tidak terlalu membosankan, dan banyak masalah telah ditemukan di berbagai posisi, yang membuat karyawan tidak dapat dipekerjakan sepenuhnya.
Oleh karena itu di atas merupakan kelemahan birokrasi yang selama ini direpotkan oleh masyarakat dalam proses pelaksanaannya. Hal ini disebabkan adanya perubahan nilai atau norma sosial dari waktu ke waktu, sehingga nilai-nilai dalam birokrasi juga berubah dan menyesuaikan dengan penyelenggaraan pemerintahan. Dari sudut pandang ini birokrasi sangat erat kaitannya dengan politik, ini merupakan kelemahan, karena birokrasi tunduk pada campur tangan politik, dan birokrasi digunakan untuk menguasai pemerintahan. Praktik terbaik adalah berpegang pada dan menegaskan visi dan misi. Visi dan misi harus jelas dan akurat untuk mencapai apa yang diinginkan semua orang dan kemudian menyelesaikan kepemimpinan yang perlu dibenahi. Birokrasi membutuhkan publik.
(Gedeona, 2013; Robbins, 1994; Ambarwati, 2018; Surur, 2019; Dolan and Rosenbloom, 2016)
Daftar Pustaka
Ambarwati, A., 2018. Perilaku dan Teori Organisasi. Media Nusa Creative, .
Dolan, J. and Rosenbloom, D.H., 2016. Representative Bureaucracy: Classic Readings and Continuing Controversies. Representative Bureaucracy: Classic Readings and Continuing Controversies.
Gedeona, H.T., 2013. Birokrasi Dalam Praktiknya Di Indonesia : Netralitas Atau Partisan? Jurnal Ilmu Administrasi, 10(2).
Robbins, S.P., 1994. Teori Organisasi: struktur, Desain dan Aplikasi. Jakarta: Arcan, .
Rosenbloom, D.H., 1983. Public Administrative Theory and the Separation of Powers. Public Administration Review, 43(3).
Surur, M., 2019. Birokrasi Weberian: “Proportional Approach.” Madani Jurnal Politik dan Sosial Kemasyarakatan, 11(2).
Komentar
Posting Komentar